Mengenal Efek Barnum



Kepastian menjadi suatu hal yang diinginkan oleh setiap orang. Secara otomatis, setiap orang akan memilih arah yang pasti, dibandingkan memilih arah yang masih dipertanyakan jalan keluarnya, akankah dapat mengantarkan sampai pada tujuan yang diinginkan olehnya atau tidak. Namun, kenyataannya kita sering dihadapkan oleh ketidakpastian di dunia ini. Maka, tak heran setiap orang akan memiliki berbagai macam cara untuk mempersiapkan ketidakpastian hari esoknya. Termasuk, mengawali hari dengan kegiatan yang sepele. Mungkin ada beberapa orang dari kita yang meluangkan di pagi harinya untuk mencari tahu keberuntungannya lebih dulu. Bahkan, ada beberapa orang dari kita juga, yang mengindetifikasi karakteristik pribadinya, agar nantinya dapat terampil dalam memilih jalan hidupnya.

Kalian tentu pernah membaca ramalan bintang, atau mengkuti tes kepribadian lain yang dilihat dari berbagai ciri khas dari kita (misal melalui warna kesukaan, indera penglihatan, golongan darah). Tidak menutup kemungkinan, ada dari kita yang merasakan kesesuaian antara hasilnya dengan kondisi kita saat ini. Beberapa waktu yang lalu, saya tidak sengaja menemukan tes kepribadian yang dilihat dari warna kesukaan di media sosial—sebenarnya saya lebih tertarik membaca tes kepribadian dibanding ramalan bintang, karena saya meyakini tes tersebut telah melewati beberapa penelitian sebelumnya, Saya merasa hampir 100% yang tertulis dari hasil tesnya, menggambarkan diri saya.  Saya kembali teringat dengan thread dari salah satu akun di twitter yang menyentil karena menyampaikan hal baru yang ketika saat itu saya belum mengetahuinya dengan pasti.

Mungkin ada yang sudah pernah mendengar Efek Barnum?

Efek Barnum atau Efek Forer merupakan fenomena psikologis yang dialami oleh seseorang yang meyakini bahwa hasil gambaran orang lain terhadap dirinya adalah suatu kebenaran dan hanya berlaku khusus untuk dirinya.  Wah jangan-jangan bukan kebenaran yang kita dapatkan dari tes kepribadian/ramalan, tetapi kita hanya mendapatkan efek barnum saja! Efek Barnum ini pertama kali diteliti oleh Betram R. Forer pada tahun 1949, dan diberi nama Barnum oleh Paul Meehl  pada tahun 1956.

Penamaan Barnum sebenarnya terinpirasi oleh seorang pemain taater asal Amerika Serikat, bernama Phineas Taylor Barnum, ia sukses menarik perhatian masyarakat disana melalui bisnis hiburannya pada tahun 1860-an, Barnum melahirkan inovasi sirkus yang pada akhirnya berkembang menjadi pusat hiburan di New York. Biografi dari P.T. Barnum ini sebenarnya telah diangkat menjadi film drama musikal di tahun 2017 lalu lho, ya The Greatest Showman!

Para peneliti di bidang psikologi terinpirasi oleh P.T. Barnum untuk memberi nama efek Barnum ini, mengingat adanya formula sukses yang diajarkan oleh P.T Barnum yaitu “always to have a little something for everybody”. Efek Barnum terjadi mirip seperti cara kerja P.T. Barnum ketika membangun bisnis hiburannya, ia berfikir out of the box untuk mendapatkan kembali peruntungan hidupnya dengan cara menarik perhatian masyarakat melalui hiburan yang sebenarnya hanyalah sebatas fantasi. Ia melahirkan berbagai karakter teater diantaranya yang terkenal adalah Jenderal Tom Thumb (nama aslinya Charles Sherwood Stratton) dan Fiji Mermaid (makhluk yang bekepala monyet dan memiliki ekor ikan). Nah, Paul Meehl yang memberi nama Efek Barnum ini, karena tes psikologi yang masih tidak jelas keakuratannya (namun dapat menarik perhatian masyarakat pada zamannya) sama seperti halnya yang dilakukan oleh P.T Barnum, ia dapat menarik perhatian masyarakat melalui permainan fantasi—pada akhinya berkembang menjadi sebuah bisnis.

The public appears disposed to be amused even when they are conscious of being deceived, P.T. Barnum

Penelitian terkait efek Barnum pertama kali dilakukan oleh Betram R. Forer pada tahun 1949 dan dipublikasikan dalam jurnal “The Fallacy of Personal Validation : A Classroom Demonstration of Gullibillity”. Penelitian ini dilatarbelakangi karena adanya penilaian kepribadian yang sering sekali muncul dan ditulis menggunakan istilah-istilah umum sehingga tidak berarti dalam kemampuannya mendeksripsikan kepribadian seseorang secara tepat. Forer menggunakan Diagnostic Interest Blank sebagai alat ukur dalam penelitiannya, yang terdiri dari tiga belas daftar penyataan umum terkait kesenangan/hobi, bahan bacaan, karakteristik pribadi, pekerjaan dan harapan seseorang, serta ambisi seseorang terhadap suatu yang dianggap ideal. Pernyataan tersebut sebagian besar diambil dari buku astrologi yang teraktual pada waktu itu.

Daftar pernyataan tersebut kemudian  disebar ke 39 mahasiswa di kelas pengantar psikologinya, ia menyuruh mahasiswanya untuk menilai keakuratan 13 pernyataan tersebut dengan kondisi pribadinya masing-masing. Penilaiannya berdasarkan skala dari 0 (poor atau tidak sama sekali mencerminkan saya) sampai 5 (perfect atau sangat mencerminkan saya). Selain itu, sebenarnya Forer telah menyusun daftar pernyataan yang sama untuk semua responden penelitiannya, dengan kata lain, setiap mahasiswa yang menjadi respondennya tidak mengetahui bahwa mereka telah menerima deskripsi kepribadian yang sama persis. Rata-rata akurasi dari hasil penelitiannya adalah 4.3 hampir mencapai 5, yang menandakan bahwa sebagian besar respondennya menilai bahwa daftar pernyataan tersebut akurat dengan kondisi mereka pada saat itu.

Apa saja deskripsi kepribadian yang dapat mengundang Efek Barnum?

Sundberg (1955), menjelaskan bahwa terdapat ciri dari penilaian kepribadian yang mengundang efek barnum (yang disebut sebagai Barnum profile), diantaranya :

  1. Pernyataan yang tidak jelas/ terdengar samar (vague), contohnya : “anda sangat menikmati perubahan yang terjadi dalam kehidupanmu”, perubahan yang disampaikan tidak menjurus pada hal yang spesifik, yang bisa saja mengundang seseorang berspekulasi—mencari perubahan yang lebih spesifik yang benar-benar terjadi dan dinikmati olehnya, lalu pada akhirnya seseorang akan membenarkan pernyataan tersebut.
  2. Pernyataan yang mengandung makna ganda/ambigu (double-headed), contohnya : “anda adalah seorang yang penuh dengan semangat (optimistic) dan menyenangkan, namun terkadang anda dapat berubah menjadi seorang yang penuh tekanan/ stress”. Makna ganda seperti ini yang membuat kita dengan sepenuhnya membenarkan penilaian itu, padahal hal tersebut wajar terjadi pada diri kita atau bahkan oleh orang lain karena adanya perubahan hormon tubuh kita yang sewakktu-waktu dapat terjadi.
  3. Pernyataan yang cenderung mengandung makna positif (favourable), contohnya : “anda mempunyai kepribadian yang tegas dan disukai oleh banyak orang”.  Berdasarkan jurnal “The Barnum Effect in Personality Assesment : A Review of Literature” disimpulkan bahwa pernyataan yang menyenangkan lebih disukai dan lebih mudah diterima sebagai deskripsi yang akurat tentang kepribadian diri mereka, ketimbang pernyataan yang tidak menguntungkan bagi diri mereka. Ciri pernyataan diatas memang membuat kita cenderung lebih mudah menerimanya sebagai gambaran diri, karena kenyataannya, kita sebagai seorang manusia akan selalu memilih hal-hal yang positif.
  4. Pernyataan yang menggambarkan deskripsi umum atau berlaku untuk sebuah kelompok, contohnya : “anda meyakini bahwa belajar tidak selamanya mudah” , “merasa aman dan nyaman adalah sebuah tujuan anda”. Sebelum benar-benar yakin, saya sarankan untuk bertanya dengan diri kita sendiri, “mungkinkah pernyataan tersebut dapat dialami oleh orang lain juga?” Sangat mungkin! Pernyataan yang terlihat khusus namun sejatinya merupakan sebuah deskripsi yang universal (bisa saja semua orang mengalami hal tersebut).

Mengapa Efek Barnum bisa terjadi?

Pada jurnal yang sama, “The Barnum Effect in Personality Assesment : A Review of Literature” dikatakan bahwa terdapat variabel kepribadian seseorang yang berhubungan erat dengan penerimaan seseorang terhadap pernyataan Barnum profile. Diantaranya disebutkan variabel kepribadian locus of control, yang memicu seseorang menganggap akurat sebuah ramalan/ tes kepribadian. Locus of control dibagi menjadi dua, locus of control internal dan locus of control external . Secara mudahnya dipahami, jika seseorang percaya bahwa apa yang terjadi itu karena hasil dari perlakuannya/usahanya disebut locus of control internal. Sementara, ada juga yang meyakini bahwa apa yang telah terjadi di kehidupannya merupakan bentuk perlakuan dari orang lain/ sesuatu di luar kendalinya, maka hal itu disebut sebagai locus of control eksternal. Seseorang yang beranggapan bahwa nasib mereka ditentukan oleh suatu di luar kendali mereka, akan mudah menerima efek Barnum (Weimann, 1982). 

Kemudian, kepribadian lainnya yang memengaruhi terjadinya efek Barnum adalah kecenderungan seseorang mencari persetujuan terkait validitas dirinya baik itu sifat, pola pikir yang mereka miliki. Sebagai manusia, ada sebagian dari kita yang menyukai fakta-fakta pribadi. Dalam penelitian Mosher (1965) disebutkan juga bahwa individu akan lebih mudah menerima pernyataan yang positif sebagai gambaran kepribadian diri mereka. Selain variabel kepribadian yang menjadi alasan efek barnum bisa terjadi, pemilihan kata yang terdapat dalam pernyataan untuk menilai kondisi seseorang/kepribadiannya, juga turut serta menentukan seseorang akan mendapatkan efek Barnum (hal ini sudah dijelaskan pada poin sebelumnya).

Lalu, bagaimana mengatasi Efek Barnum?

Pada poin terakhir ini, saya akan memberikan saran yang sifatnya subjektif dengan sudut pandang keimanan saya, boleh dibaca dan diterima, boleh juga tidak.

Sebagai seorang yang meyakini adanya Tuhan yang Maha Esa—Allaah subhanallahu wa ta’ala, saya menyarankan agar tidak mudah percaya dengan ramalan, karena pada dasarnya ramalan dibuat oleh manusia, sementara manusia merupakan makhluk Allaah yang tidak luput dari kekhilafan/ kesalahan. Kita harus meyakini sebagai seorang muslim bahwa setiap ketidakpastian termasuk takdir kita, hanyalah Allaah saja yang Maha Mengetahuinya, segala sesuatu berjalan atas izinNya.

Selain itu, kita juga harus bersikap “skeptis” (dalam makna positif) ketika dihadapkan sesuatu yang baru. Tidak serta merta, informasi yang kita dapatkan diterima secara bulat, Islam juga mengajarkan kita untuk ber-tabayyun (mencari tahu kebenaran informasi).

Jika memang hanya menjadikan sebagai senang-senang saja dengan berlandaskan kepo, menurut saya tidak apa-apa, asalkan tidak membuat diri kita bergantung selamanya dengan ramalan atau sesuatu yang belum diketahui kebenarannya. Sementara untuk tes kepribadian, saya cenderung mengambil penggambaran diri saya yang baik-baiknya saja, dan ini mungkin bisa menjadi salah satu cara untuk menghibur kita ketika merasa insecure, sebenarnya dengan membaca pernyataan dari tes kepribadian yang berbau positif dan menyugestikan pada diri kita, tidak menutup kemungkinan memberikan efek yang baik juga untuk diri kita.

Dan sebagai penutup, saya tuliskan quotes, yang saya temukan dari artikel di Medium, nah bagi kalian yang masih khawatir tentang ketidakpastian masa depan, tidak ada salahnya membaca artikel berikut In Uncertain Times : What Do I Still Control by Thomas Oppong

If you are constantly aware and preparing for uncertainty and potential bad events, and thus are constantly in fight-or-flight mode, you build up a chronic stress pattern and make yourself more prone to fear and anxiety, Rebecca Sinclair, Ph.D, a psychologist

Referensi :
  • Dickson, D.H; Kelly, I.W (1985) The Barnum Effect in Personality Assesment : A Review of Literature”. Psychological Reports, pp. 367-382
  • Forer, B.R (1949) The Fallacy of Personal Validation: A Classroom Demonstration of Gullibility, pp. 118-123
  • Mosher, D.L (1965). Approval Motive and Acceptance of "Fake" Personality Test Interpretations which Differ in Favorability. Psychological Reports, pp. 395-402
  • Sundberg, N.D. (1955) The Acceptance of "Fake" Versus "Bona Fide" Personality Test Interpretations. Journal of Abnormal ad Social Psychology,pp. 145-147
  • Weimann, G. (1982) The Prophecy that Never Fails: On the Uses and Gratifications of Horoscope Reading. Sociological Inquiry, pp. 274-290


8 Comments

  1. Dulu waktu masih SMP saya suka bacain ramalan bintang buat seru-seruan sama temen. Tapi lama-lama ya akhirnya sadar juga bahwa ramalan ya cuma ramalan yang belum tentu kebenaran nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waa saya juga pernah merasakan hal itu mba,tetapi lambat laun jd tersadar juga bahwa apa yg dituliskan belum tentu benar๐Ÿ˜… terimakasih sudah mampir dan membaca artikel di blog biru saya ini ya mbaa๐Ÿ˜Š

      Delete
  2. Such a nice post! Gak sengaja blog walking di website 1minggu1cerita dan nemu link postingan mba ini. Baru tau kalau kondisi semacam itu namanya efek Barnum. Dulu waktu usia masih kisaran SD atau SMP tuh sering banget bacain zodiak mingguan di majalah-majalah karena memang berasa relate aja dengan diri kita. Setelah dipikir-pikir sekarang emang kebanyakan isi dari horoskop atau ramalan-ramalan semacam itu gak pernah khusus karena toh mereka ibaratnya cari aman buat ngasih pandangan itu ke orang yang baca, biar mudah diterima oleh hampir semua kalangan. Kadang suka merasa rancu juga sih, ini kalo sekalinya positif ya positif banget. Sekalinya dikasih negatif ya terlalu negatif jadi sebel๐Ÿ˜…

    Hamdallah sekarang udah lebih dewasa dan gak mau percaya lagi sama ramalan kayak gitu. Tapi kalau tes kepribadian boleh laah buat jadi patokan๐Ÿ˜

    Anyways, salam kenal ya mba๐Ÿ‘‹๐Ÿป

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah senang rasanya mba, bisa membawa manfaat lewat tulisan ini ๐Ÿ˜Š saya sebenarnya pertamakali tahu efek barnum ini dr twitter mba..hanya sekilas diperkenalkan namanya "efek barnum" saja, saya jadi semakin penasaran dan pada akhirnya sy cari dr beberapa sumber informasi yg menurut sy bisa dipercaya, seperti halnya dr jurnal๐Ÿ˜„

      iyaa mbaa bener, semakin brtambah usia menjadi dewasa, jadi lebih selektif lagi dapetin informasi dan rasanya pengen cari tahu kebenarannya (gak asal terima secara bulat saja apalagi percaya dengan ramalan yang tidak tentu kebenarannya)๐Ÿ˜…

      Salam kenal juga mba awl๐Ÿ˜Š saya baru ini merasa sangat senang setelah gak sengaja buka lagi tulisan ini, lihat ada dua komentar (termasuk dr mba awl) alhamdulillah๐Ÿ˜Š saya baru akhir2 ini gabung komunitas blog dan memberanikan diri share tulisan saya mba, jadi mohon maklumi ya mba, tulisan saya yang lalu2 belum pernah mendapat komentar di blog membuat saya jadi jarang mengecek kolom komentar dr tulisan blog saya๐Ÿ˜…๐Ÿ™ jd pembelajaran buat saya kedepannya ๐Ÿ˜Š

      Terimakasih sudah berkunjung ke blog saya mba awl, salam kenal juga ya mba ๐Ÿ˜Š๐Ÿ‘‹

      Delete
  3. Iya mbaa hihi, semoga kita semakin bisa lebih bijak lg ya dalam mencari informasi atau sumber apapun, apalagi yg memang berkaitan dengan personality.

    Gapapa mbaa, tulisan mba ini bener-bener enlighten dan udah sangat jelas memberi informasi buat orang awam seperti saya yg belum pernah denger istilah efek Barnum๐Ÿ˜ Selamat bergabung di komunitas ya mba, semangat terus menulisnya!๐Ÿ’ช๐Ÿป๐Ÿค—

    ReplyDelete
  4. Aamiin mba ๐Ÿ˜Š๐Ÿคฒ alhamdulillah, saya baru belajar menulis mba, senang rasanya jika tulisan saya bisa membawa manfaat๐Ÿ˜Š

    saya lupa centang "notify me" di kolom komentar mba, jadinya saya tidak tahu kalau mba awl ternyata membalas komentar beberapa menit kemudian setelah saya balas komentar dr mba, mohon maaf mba ๐Ÿ˜…๐Ÿ™

    Jazakillah khairan, terimakasih atas support-nya mbaa, semangat menulis juga buat mba awl✊๐Ÿค—

    ReplyDelete
  5. Halo mbak, salam kenal.

    Saya membaca tulisan ini setelah tahu masuk nominasi 1 Minggu 1 Cerita. Aku pun yang pernah kuliah psikologi belum familier banget dengan istilah ini. Mungkin waktu itu tidak begitu dipejalari dalam dalam mata kuliah.

    Makasih loh mbak atas ilmunya. Aku jadi dapat pengetahuan baru yang ternyata sebetulnya sudah terjadi di kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  6. Halo juga mba devina salam kenal, terimakasih juga sudah membaca ya mbaa..☺๐Ÿ™

    ReplyDelete


Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas